JAKARTA, KOMPAS.com — Industri pesawat televisi di Indonesia, perlahan tetapi pasti, berjumpa dengan pasar lebih luas melalui program siaran televisi digital. Siaran berformat modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi ini bakal meluas dan merata hingga 2018.
Awalnya, TVRI telah melakukan peluncuran siaran televisi digital pertama kali pada 13 Agustus 2008. Pelaksanaan dalam skala lebih luas dan melibatkan televisi swasta terealisasi pada Maret tahun lalu. Lambat laun, sistem analog seperti saat ini bakal tergantikan.
Seperti muncul dalam diskusi bertajuk "Kesinambungan Siaran TV Digital di Indonesia" pada Kamis (21/1/2010), digitalisasi menyertakan banyak pemangku kepentingan mulai dari penyedia konten hingga penyedia kotak konverter atau lazim dikenal sebagai set top box (STB) hingga ke industri pesawat televisi.
Berkenaan dengan inilah, sebagaimana diisyaratkan salah satu peserta diskusi yakni Direktur Penjualan LG Electronics Indonesia (LGEIN) Budi Setiawan, industri pembuat pesawat televisi terpacu untuk ikut ambil bagian. "Kami ingin menjadi yang pertama. Karena, menjadi yang pertama itu lebih enak," kata Budi dalam kesempatan bersamaan dengan peluncuran televisi LG LCD LED yang pertama di Indonesia. Namanya, Infinia SL90.
Menurutnya, hingga kini pasar televisi LCD berada di angka 850.000. "Pasar LCD LED sendiri 5 persennya," imbuh Budi.
Maka dari itulah, kemudian, patut dimaklumi bila harga satu unit televisi LCD LED bisa dianggap belum terjangkau seluruh lapisan masyarakat. Banderol harga televisi ini untuk 42 dan 47 inci per buah antara Rp 25 juta dan Rp 29 juta. "Tapi, harga tergantung volume. Kalau diproduksi massal, harga pasti makin murah," ujarnya.
Kita tunggu saja turunnya harga televisi tersebut sesuai janjinya. Tapi dengan usaha sedikit, kami percaya anda pasti dapat membelinya dengan harga yang sekarang. Bagaimana caranya? Ikutilah program Free ForBuyEverything.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar